Postingan

Biru II

 Pada akhirnya, kita tetap berjalan di jalur masing-masing, meskipun di atap yang sama. Kau dengan caramu yang tak bisa kutafsirkan, aku dengan kebiasaan yang tak pernah benar-benar hilang. Mungkin memang begini adanya, sebuah kesepakatan diam-diam antara aku dan kebiasaanmu, sebuah penerimaan tanpa kata.

Biru

 Seolah-olah kau sedang sendiri di depanku. ​Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang membuatku percaya. Mungkin caramu menatap, atau suaramu yang terdengar begitu lelah, seolah-olah kau membawa beban yang berat sendirian. Kau membangun sebuah panggung, dan aku, tanpa sadar, menjadi satu-satunya penonton. ​Aku tahu, tapi aku memilih untuk diam. Ada bagian dari diriku yang menikmati sandiwara ini, yang merasa nyaman dengan ilusi yang kau ciptakan. Aku terlalu takut untuk mengganggu skenario yang sudah rapi ini. Tapi, seiring waktu, ada sesuatu yang berubah. Rasa nyaman itu perlahan-lahan digantikan oleh rasa muak yang perlahan-lahan mendidih. ​Muak pada diriku yang bodoh, yang membiarkan diri ini terjebak. Muak dengan setiap kata yang kau ucapkan, yang kini terdengar seperti kebohongan. Dan yang paling parah, muak dengan dirimu yang tidak pernah benar-benar sendiri.

Nusa

 Kini kupeluk dunia dan seisi merahmu Biar penatmu merangkak di bahuku, tawamu merengkuh tubuhnya Kau tetap aku yang takkan usai